Jumat, 26 September 2008

Sepeda Motor Mulai Mendominasi Mudik Lebaran Melalui Pelabuhan Merak

Serang – Sepeda motor mulai mendominasi arus mudik yang akan menyeberang dari Pelabuhan Penyeberangan Merak (Banten)-Bakauhuni (Lampung) atau sebaliknya. PT Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP), pengelola pelabuhan ini memprediksi puncak arus mudik yang menggunakan sepeda motor itu terjadi Sabtu dan Minggu (27-28/9).


“Predikisi ini berdasarkan pada para pegawai swasta atau di pabrik-pabrik mulai libur pada hari Jumat. Jika terjadi ledakan penyeberang sepeda motor, kami sudah menyiapkan kapal yang khusus mengangkut sepeda motor pada dermaga yang ditentukan. Jadi, pengendara sepeda motor tidak akan dicampur dengan mobil pribadi, bus atau truk,” katanya.


Data PT ASDP menunjukan, pada Jumat (26/9) atau H-5, sepeda motor tercatat lebih 4.000 unit. Sedangkan kendaraan pribadi 4.377 unit. Jumlah penumpang tercatat 49.590 orang. Sedangkan sehari sebelumnya, Kamis (25/9) atau H-6 tercatat jumlah sepeda motor mencapai 1.751 unit, mobil pribadi 3.453 unit, bus 427 unit dan truk 1.532 unit. Jumlah penumpang yang menyeberang mencapai 46.141 orang.


Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Utama Merak, Togar Napitupulu mengatakan, pengelola pelabuhan akan menerapkan sitem blok jika terjadi ledakan penyeberang sepeda motor. “Sisitem ini diterapkan untuk menghindari kerugian yang diderita akibat banyaknya sepeda motor yang tidak membayar tiket. Peristiwa ini terjai pada arus mudik tahun 2007,” kata Togar Napitupulu.


Mudik tahun lalu, para pengusaha mengalami kerugian mencapai 40 persen. Dia merinci, dari 1.500 sepeda motor yang diseberangkan, teranyata hanya dibayar 800 sepeda motor. “Kali ini dihitung per blok dengan jumlah 100-200 sepeda motor per blok. Berapa blok yan dinaikan, itu yang harus dibayar, sehingga meminimalisir kerugian yang dialami operator kapal,” ujarnya.


Sementara itu, para penumpang benar-benar mengeluhkan beroperasikanya Terminal Terpadu Merak (TTM) yang menggantikan terminal yang berada di kawasan pelabuhan. Jarak yang jauh mencapai 500 meter yang terpaksa ditempuh dengan berjalan kaki. “Ini penyiksan dan pemerintah daerah di sini tidak kasihan kepada penumpang. Pengen enaknya sendiri,” kata Wati, seorang ibu sambil menggendong bayi dan menenteng tasnya.


Menurutnya, seharusnya adanya pemindahan terminal itu didukung oleh adanya kendaraan yang bisa mengangkut para penumpang hingga dermaga atau loket pembayaran “Kami juga sangat awatir, karena kami juga takut ada orang jahat,” ujarnya. (*)


0 komentar:

Poskan Komentar